Catatan Reuniku

12 02 2009

Beberapa hari saya tidak membukanya, suatu ketika sambil mengerjakan tugas, saya sempatkan diri membuka Facebook (ada yang menerjemahkannya dengan “kitab tampang”). Pada Beranda Home “kitab tampang”, sudut kanan atas terdapat kolom bertuliskan pesan, namun tak seperti biasanya disana terdapat angka 1. Penasaran dengan isinya, spontan saja saya klik kolom tersebut. Isi pesan itu berbunyi: Bang Andi pa kbr neh?. Pada awalnya sempat tidak percaya kalau pengirim pesan itu adalah Ardiyan Ramdhani. Selain pesan, ternyata orang ini juga menambahkan saya sebagai temannya, seketika itu juga saya klik kolom bertuliskan “konfirmasi”.

Pelantikan Dokter Kecil

Pelantikan Dokter Kecil


Facebook atau kitab tampang merupakan jejaring maya yang berfungsi sebagai media penghubung teman dan tempat berbagi. Kita dapat berhubungan dengan teman, saudara, wanita, pria, membuat grup darinya, berdiskusi dengan teman, bahkan ada yang memanfaatkannya sebagai awal berkenalan dengan seorang kekasih. Hal ini memberi kemudahan bagi kita dalam menjalin silaturahmi. Dan kebanyakan adalah mereka yang sudah berumur 30 keatas atau yang sudah menikah. Apa sebab? Orang yang berumur 30 keatas tentu tidak banyak waktunya untuk bersosialisi dengan sahabat atau saudaranya, karena sibuk dengan pekerjaannya (sumber: www.detik.com). Presiden terpilih Amerika Serikat, Barack Obama (anak Menteng penguasa dunia) pun mengkampanyekan dirinya melalui jejaring ”kitab tampang”, dan terbukti cukup efektif. Bagaimanapun orang memanfaatkannya, ternyata melalui “kitab tampang” ini teman kita berhasil mengorganisir alumni SD Pelita lulusan tahun 1997.

Selesai mengkonfirmasi Ardiyan sebagai teman, ternyata datang pula dua photo tua yang didalamnya berjejer anak-anak lucu dan mungil berseragam putih-putih dan topi biru. Dokter Kecil, merekalah yang berjejer di photo tersebut. Ketika saya menggeser kursor ke photo itu, muncullah nama-nama dari pemilik photo: Ardiyan Ramdhani, Chica Annisa, Setto Morello, Annanda Fatmawati, Indra Pramana Putra, Herby Permana, Rendi Virahutama, Nisya Mutia Ramadhany, Lukman Hadi Surya, Boby Nur Alam, Dimas Danang Wibisono, Rhiezkanisya Sakura, Irma Rachmania, Insan Kamil, Anggey Davey, dan Andi Muttaqien. “Ampuuunnn Tuhan…gw aja gak inget ini photo dimana….”, komentar pertama saya pada photo itu.

Enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dilalui, kita masih ingat tentunya ketika pertama kali masuk ruangan segi empat yang berisikan papan tulis, kapur, meja, kursi, jendela, dua buah daun pintu yang dikatakan orang sebagai ruang kelas. Tahun 1991, saya masuk ke Sekolah Dasar (SD) Pelita, sekolah yang didirikan oleh Yayasan Mujahidin Departemen Pertanian pada tahun 1972, ia mengemban tugas mulia sebagai lembaga Pendidikan. Lembaga Pendidikan swasta ramai berdiri di Indonesia sebagai respon terhadap minimnya fasilitas pendidikan yang didirikan pemerintah. Entah benar atau tidak, biaya untuk masuk SD Pelita sekarang adalah 5 juta rupiah. Apakah harus selamanya sebuah pendidikan berkualitas dihargai mahal? Padahal pendidikan dasar merupakan hak dasar warga Negara dimana pemerintah harus memfasilitasinya. Entahlah, yang jelas peserta didik di SD Pelita sekarang lebih homogen (sisi ekonomi).

Letak sekolah ini sangat strategis, simpang empat Koperasi orang menyebutnya. Ditengah hiruk-pikuk pagi, rutin berduyun-duyun orang tua mengantar anaknya ke sekolah ini, dan menjemput kembali pada pukul 12.00 WIB. Tak lain yang diharapkan orang tua kita adalah agar anaknya menjadi pintar dan sholeh/sholehah. Biaya SPP tak peduli berapapun mahalnya ketika itu, demi kemajuan sang anak, orang tua kita akan membayarnya, belum lagi uang jajan, beli buku, biaya bimbel dll. Kalau dipikir, besar sekali pengorbanan orang tua terhadap anak. Bagi yang berangkat tanpa diantar, sebelum jalan pastilah orang tua kita menyempatkan diri memberi bekal (roti,nasi dsb) untuk dimakan di sekolah. Lugu, imut, mungil, manja dan polos…….eehhmmm itulah kira-kira diri kita 18 tahun yang silam. Mungkin karena manja dan polosnya kita, dahulu berani melawan, menentang, ataupun tidak mengindahkan nasehat orang tua, namun hal itu selalu dihadapinya dengan tabah dan penuh kasih sayang.

8 Feb 09 KFC KEMANG

8 Feb 09 KFC KEMANG

Wajah-wajah lugu di photo tua itu sekarang sudah berubah, mereka sekarang telah memilih jalannya masing-masing, punya emosi, punya kasih sayang dan punya cita-cita yang berbeda. Meskipun begitu, tetaplah mereka manusia-manusia yang telah dididik dengan baik oleh Sekolah Dasar, tingkatan dalam pendidikan yang menurut saya mempunyai andil sangat besar dalam memberi pola perilaku seseorang. Sekarang saatnya kita melangkah, mewujudkan semua apa yang sudah ditanam oleh guru dan orang tua kita.

Sekali lagi, ”kitab tampang” ternyata telah mempertemukan kita. Diakui atau tidak, tidak semua kita akrab satu sama lain ketika SD, tapi hal itu tidak boleh menghambat keinginan kita menjalin silaturahmi. Siapapun kita, harus bangga menjadi alumni SD Pelita. Biarlah semua perjalanan tersebut menjadi kenangan abadi yang mengisi hidup. Sepuluh atau dua puluh tahun kedepan, bagaimana hidup kita?…semoga saja cita-cita dan doa orang tua kita tetap menjadi Pelita yang menerangi tiap langkah kita.

Andi Muttaqien – muttaqienmail@yahoo.co.id








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.