NEW DAY TO SUCCESS

12 02 2009

Apa arti sebuah kesuksesan? Apakah kaya harta, popularitas, wajah dan tubuh yang luar biasa tampan dan cantik, atau hanya sebagian orang yang akan bilang sukses adalah kesabaran.

Dahulu, ketika duduk di bangku SD kita tak sadar dianugrahi keahlian alias potensi dalam diri yang sangat besar. Biasanya hanya anak – anak yang pandai, rajin, punya kekuasaan di kelas akan jadi paling popular dan akan dikenang oleh anak-anak lain. Atau mungkin sebaliknya dikenal karena keburukannya, kenakalannya, insiden yang pernah menimpanya atau kejanggalannya. Kemarin saat reuni, beberapa orang di perspektifkan negatif sebagian sangat positif. Pendapat memang tak pernah sama, namanya juga hidup selalu ada pro dan kontra. Semua hanya tersipu malu ketika mengingat tingkah polos mereka. Obsesi anak – anak saat kecil pada tokoh kartun, atlet basket, cinta monyet, peringkat kelas sampai obsesi ingin jadi presiden dan punya lumba – lumba di atas rumah. Semuanya obsesi membuktikan cita-cita mereka ; popularitas, penghargaan, eksistensi dan kekayaan yang semuanya menuju kearah kesuksesan.

Sedih sekaligus senang bertemu dengan teman lama. Beberapa teman, mungkin berubah total kepribadiannya ada yang tetap seperti dahulu. Ada yang malah semakin parah kelakuannya. Sedih karena, hidup itu semakin tua karena mungkin kebanyakan dari kita tak pernah ingat apa yang pernah diajarkan bapak dan ibu guru tercinta tentang semangat hidup, etika, dan agama (tentu saja). Senang karena, ½ dari kita dapat berjumpa kembali dalam keadaan sehat & dilindungi Alloh Ta’ala

Tidak ingin munafik, dunia ini amat cepat berlari, membawa arus yang deras dalam menerjang kehidupan anak manusia. Hukum alam setelah lulus sekolah -paling tidak setelah lulus SMA- sepertinya langsung “kejar tayang’. Kejar tayang karena mereka harus membuktikan cita-cita kami yang akan beranjak tua.

Lalu, seperti apa cita-cita itu akan terlaksana? Tergantung dari individu itu sendiri. Ada yang masih kuliah, ada yang baru lulus belum kerja, ada yang santai-santai saja seolah ‘cuek’ dengan keadaan, ada yang ingin terus berlari mengejar tayang hingga tak tau waktu, ada yang semakin menghargai hidup. Tapi tak  ada yang peduli akan cita-cita mereka setelah bertemu teman lama. Reuni adalah ajang mempererat silaturahmi, ajang berbagi, ajang untuk selalu mengingatkan apa yang pernah terjadi.

Dahulu kita memang masih amat polos, tak mengenal banyak hal di dunia ini. Jalan yang dipilih juga beragam, bewarna, putih, abu-abu, atau hitam. Lalu, bagaimana wajah kita nanti 12 tahun mendatang setelah detik perpisahan saat reuni SD Pelita angkatan 1997. Nanti tahun 2021 nanti? Pernahkah berfikir bagaimana mendidik anak-anak kita agar menjadi manusia yang lebih baik bagi bapak ibu – nya yang pernah bersekolah di SD Pelita tercinta? Kita pastinya akan mencerminkan wajah2 anak-anak kita yang polos saat duduk di bangku dasar. Semoga kita semua anak-anak yang dahulu berseragam putih hijau, putih-putih –kalau pake baju dokter kecil- dan seragam pramuka sukses lahir bathin… jangan lupa, ingat ibu dan bapak guru…

“Creative minds have always been known to survive any kind of bad training” – Anna Freud, psychoanalysis –

Sosial & Media Analyst also Writer @ mass media

Nama pena : Anggie Davey / GTDV

ilustrasi dari sini








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.